Kugores
tulisan dikertas menandakan aku sedang lapar, menantikan makanan yang turun
dari langit. Pasti kalian heran dan bingung dengan kalimat itu? Bagaimana mungkin
aku sedang lapar yang aku lakukan hanya menggores sebuah tulisan dan itupun aku
mengharap makanan turun dari langit? Seharusnya aku mencari uang dengan usaha
lalu uangnya aku belikan makanan. Hahaha, itu hanya sebuah kalimat yang
membuatku tidak masuk akal.
Kalimat
diatas saya ambil sebuah perumpamaan, aku bermain petasan dengan mewarnai
megahnya langit, hanya warna warni petasan yang melukis langit itu, setelah itu
waktu terus berjalan bagaikan roda yang berputar, tak terasa sudah pukul 24.00,
oh iya, berarti ini sudah pergantian tahun menurut kalender masehi, dan tiba
saatnya aku menitipkan harapanku kelangit sana, semoga esok dan sampi diakhir
tahun kedepan, hidup aku lebih baik, dan berharap Tuhan bisa mengabulkan semua
keinginanku. Haha, lucu.... ahhh biarlah kalau aku ketawa sendiri.. Aku yang
membuat kegaduhan di atas langit sana, membuat kebisingan di atas langit,
sehingga membuat Allah dan para malaikat Nya tidak nyaman dengan adanya sebuah
percak percik petasan itu, dan aku baru saja menentang ajaran Nabi Allah yang
melarangku merayakan tahun baru dengan yang dilakukan bangsa yahudi, terbesit
dalam benakku “duhai diriku, bagaimana mungkin keinginanku bisa dikabulkan?” Tetapi
aku tidak mendengarkan ajaran Nabi Allah dan aku tidak mematuhi perintahNya? Harusnya
kalau aku mau dikabulkan keinginanku, yahh harus ikuti perintah Nya dan
mengikuti ajaran Nabi Allah.
Aku
terporosok oleh megahnya isi dunia ini, lampu-lampu kota yang menghiasi jalan,
menandakan aku tertipu dengan terangnya penghias isi dunia ini. Malam yang
memukau dengan tampilan lampu disko layaknya seperti ada disebuah diskotik. Yah
yah yah, aku terus berjalan menikmati kota keramaian ini, disekelilingku yang
ada para pemuda pemudi yang katanya generasi penerus bangsa tetapi malah
menjadi perusak bangsa, tak peduli lagi dengan perbuatan yang dilakukan, asal
senang dia langsung sikat. Yah, mereka berpesta pora, hanya menyenangkan
dirinya tanpa memikirkan hukuman dari Allah untuk dirinya dan celakanya bukan
hanya dirinya, tetapi kalau Allah murka, bahkan menurunkan Azab untuk negeri
ini, dan semua kena imbasnya.
Aku
berada diambang kebingungan, aku terlalu asyik menikmati malam ini, hanya 1 malam
tetapi dosanya yang begitu besar. 1 malam yang hanya biasa kugunakan membaca,
bermain gitar, hingga tertidur, dan kini 1 malam itu berubah menjadi sebuah
ajang pameran kemaksiatan. Apakah 1 malam ku ini berguna dari yang
kemarin-kemarin yang sudah terlewati? Kini pertanyaan itu terus meracuni
pikiran aku, ada apa dengan malam ini? Sangat berat juga jika kukatakan malam
ini teristimewa daripada malam-malam sebelumnya? Hahaha, pikiran itu berlawanan
dengan gejolak hati yang mengatakan “Allah Murka”. Wahhhh, sungguh berat
rasanya melawan gejolak yang membara di dalam hati ini jika sudah tertanam nama
“Allah”. Ahh sudahlah, dan aku katakan malam ini tak ada teristimewa bagi aku
jika dibandingkan malam-malam sebelumnya. Dan aku mulai masuk rumah, aku cuci
kaki, sikat gigi, dan berwudhu, lalu aku lekas tidur.
Pengarang : Subhan Jaelani
No comments:
Post a Comment